Jam menunjukkan pukul lima sore. Gue masih duduk di depan laptop, mata perih, dan kepala penuh dengan deadline yang entah kapan selesainya. Di momen kayak gitu, gue nggak butuh liburan ke Bali atau staycation mahal. Gue cuma butuh satu hal: duduk di sudut ruangan, ambil ukulele mungil yang harganya nggak sampai setengah gaji, dan mainin empat akor yang gue hafal di luar kepala.
Kedengarannya lebay? Mungkin. Tapi ini yang gue jalanin setahun terakhir, dan jujur, ini satu-satunya hal yang bikin gue nggak merasa hidup gue cuma revolving door antara kasur, kantor, dan grup WhatsApp kerjaan.
Kenapa Gue Malah Pilih Hobi yang "Nggak Berguna"
Sebelum nemu ukulele, gue udah coba berbagai hobi. Gym? Seminggu dua kali, lalu berhenti karena malas banget bangun jam lima pagi. Baca buku? Gue beli tiga buku, selesai satu, sisanya jadi tumpukan di meja samping kasur. Bahkan gue sempat ikut kelas memasak online, tapi cuma bertahan tiga sesi karena bahannya mahal dan cucian piringnya banyak.
Yang jadi masalah bukan hobinya. Masalahnya adalah gue selalu mikirin hasil. Kalau gym, gue mikir "harus kurus". Kalau baca buku, gue mikir "harus selesai cepat". Semua jadi beban tambahan, padahal gue butuh sesuatu yang nggak menuntut apa-apa dari gue.
Baca juga: Tokoh Agama Soroti Pelaporan Pandji Pragiwaksono
Nah, ukulele ini beda. Nggak ada target, nggak ada target berat badan, nggak ada target jumlah halaman. Gue mainin kalau lagi pengen, berhenti kalau udah bosan. Dan anehnya, justru karena nggak ada tekanan, gue jadi konsisten.
Baca Juga: Hari ini tidak perlu sempurna, cukup diisi satu hal yang seru!
Modal Awal yang Nggak Bikin Dompet Nangis
Ini bagian yang paling gue suka dari hobi musik: kamu bisa mulai dengan angka yang sangat kecil. Nggak perlu gitar mahal, nggak perlu studio rekaman.
Ini rincian modal yang gue keluarin di awal, dan ini masih relevan sampai sekarang:
- Ukulele sopran merek lokal — Rp280 ribu. Ini udah cukup buat pemula, suaranya juga lumayan.
- Aplikasi tuner gratis — Rp0. Cari di Play Store atau App Store, banyak yang nggak perlu bayar.
- Channel YouTube tutorial — Rp0. Ada ratusan video yang ngajarin akor dasar dalam bahasa Indonesia.
- Buku lagu atau catatan akor — Rp20 ribu buat beli buku tulis kecil, sisanya nulis sendiri.
Total: sekitar Rp300 ribu. Itu setara dua kali makan siang di restoran mall. Sekali keluar uang, bisa dipakai bertahun-tahun.
Kalau kamu nggak tertarik ukulele, ada banyak alternatif lain yang modalnya sama-sama kecil. Harmonika di bawah Rp200 ribu. Kalimba sekitar Rp150 ribu. Bahkan kalau kamu punya laptop kantor, kamu bisa pakai aplikasi DAW gratis kayak LMMS atau GarageBand buat bikin musik sederhana. Intinya, jangan mulai dengan beli alat mahal. Mulai dari yang paling murah, karena yang penting adalah kebiasaannya, bukan alatnya.
Strategi 15 Menit yang Gue Pakai Setiap Hari
Ini bagian yang sering bikin orang gagal: mereka pikir hobi butuh waktu berjam-jam. Padahal buat gue, 15 menit sehari udah cukup.
Gue biasanya mainin ukulele pas jam istirahat makan siang, atau kadang sebelum tidur. Nggak pakai jadwal ketat, nggak pakai alarm. Yang penting adalah gue sempatin pegang ukulelenya setiap hari, walaupun cuma buat mainin satu lagu.
Aturan Nggak Tertulis yang Gue Pegang
Ada beberapa prinsip yang gue terapin biar hobi ini nggak berubah jadi kewajiban:
- Jangan targetkan mahir. Tujuan gue bukan jadi musisi, tapi punya ruang aman buat diri sendiri.
- Mainin lagu yang gue suka. Bukan lagu yang "seharusnya" dipelajari pemula. Kalau gue suka lagunya, gue bakal balik lagi besok.
- Rekam suara sendiri. Bukan buat diunggah, tapi buat ngeliat progres dari bulan ke bulan. Ini yang bikin gue semangat.
- Nggak usah bandingin sama orang lain di internet. Ada anak umur 12 tahun yang udah jago banget di TikTok. Bukan urusan gue.
Kalau Lagi Jenuh, Gimana?
Ada masanya gue bosen. Biasanya karena gue kebanyakan nonton tutorial dan kurang praktik. Solusinya simpel: gue tutup YouTube, gue mainin lagu yang paling gue hafal, dan gue biarin diri gue salah nada. Nggak masalah. Hobi bukan ujian.
Yang bikin hobi bertahan bukan bakat, tapi rasa senang yang kamu rasain setiap kali melakukannya. Kalau senangnya hilang, berarti ada yang perlu diubah — bukan hobinya, tapi cara kamu menjalaninya.
Efek Samping yang Nggak Gue Duga
Setelah setahun main ukulele, ada beberapa perubahan yang gue rasain dan ini di luar ekspektasi gue.
Pertama, gue jadi lebih sabar. Belajar satu akor butuh waktu, dan itu ngajarin gue buat nggak buru-buru. Efeknya kebawa ke kerjaan — gue jadi lebih tenang waktu ada masalah di kantor.
Kedua, gue punya topik obrolan baru. Waktu lagi ngopi bareng temen kantor, gue nggak cuma bisa ngomongin kerjaan. Gue bisa cerita soal lagu yang lagi gue pelajarin, dan kadang temen gue ikut penasaran.
Ketiga, dan ini yang paling penting: gue punya identitas di luar "karyawan". Selama ini gue ngerasa diri gue cuma sebatas jabatan dan nama perusahaan. Sekarang, gue juga orang yang bisa main musik. Kecil, tapi berarti.
Kalau kamu pekerja kantoran yang ngerasa hari-harinya monoton, coba deh mulai satu hobi kecil minggu ini. Nggak perlu nunggu punya waktu luang banyak. Nggak perlu nunggu gaji naik. Cukup sisihin 15 menit, cari alat yang harganya di bawah Rp300 ribu, dan mulai. Nggak ada yang namanya terlambat buat mulai main musik — yang ada cuma nggak pernah mulai sama sekali.